x
[AhOk#NEWS] PROSENTASE PEMBACA MEDIA ONLINE AhOkNews.Com KOTA TANJUNGPANDAN INDONESIA 45,8% KOTA BATAM INDONESIA 25% KOTA JAKARTA INDONESIA 16,7% KOTA PRINEVILLE USA 11,8% KOTA DUBLIN IRLANDIA 8,8% [AhOk#NEWS] 我们接受以合作、捐赠及其他形式提供的援助,以支持我们在印度尼西亚各地开展的各项活动。如需了解更多信息,请致电 +62 895 33 0 99999 3 联系我们。谢谢。[AhOk#NEWS] WE ACCEPT ASSISTANCE IN THE FORM OF COOPERATION, DONATIONS AND OTHER THINGS NEEDED FOR THE OPERATION OF ALL ACTIVITIES THROUGHOUT INDONESIA. FOR FURTHER INFORMATION PLEASE CONTACT +62 895 33 0 99999 3 THANK YOU [AhOk#NEWS] Wǒmen jiēshòu yǐ hézuò, juānzèng jí qítā xíngshì tígōng de yuánzhù, yǐ zhīchí wǒmen zài yìndùníxīyà gèdì kāizhǎn de gè xiàng huódòng. Rú xū liǎojiě gèng duō xìnxī, qǐng zhìdiàn +62 895 33 0 99999 3 liánxì wǒmen. Xièxiè. [AhOk#NEWS] KAMI MENERIMA BANTUAN KERJASAMA & DONASI SERTA HAL LAINNYA YANG DIPERLUKAN UNTUK OPERASIONAL SELURUH KEGIATAN DI SELURUH INDONESIA, KETERANGAN LEBIH LANJUT HUBUNGI +62 895 33 0 99999 3 TERIMAKASIH [AhOk#NEWS] BERGABUNGLAH BERSAMA KAMI "KOMUNITAS AhOk2029 [ KoAhOk2029 ] INDONESIA MELALUI SCAN BARCODE YANG ADA DI PROFIL FOTO AHOK DIDALAM IKLAN MEDIA ONLINE AhOkNews.Com UNTUK MEWAKILI DAERAH ANDA JADILAH BTP BERSIH TRANSPARAN & PROFESIONAL" MENUJU INDONESIA EMAS 2045 [AhOk#NEWS] KETUA UMUM KOMUNITAS AhOk2029 [ KoAhOk2029 ] INDONESIA, RIZAL TAN MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS TERBITNYA MEDIA ONLINE AhOkNews.Com PADA RABU 8 JULI 2026 SEMOGA BERJAYA UNTUK NEGERI [AhOk#NEWS] MEDIA ONLINE AhOkNews.Com DIKELOLA OLEH MANAGEMENT REDAKSI IndriMediaNewsGroup BER-MOTTO-KAN BTP BERANI TERDEPAN PRESISI HOTLINE +62 895 33 0 99999 3 [AhOk#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL & RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH NYAMAN & PENUH PESONA HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [AhOk#NEWS] KOMUNITAS AhOk2029 [ KoAhOk2029 ] INDONESIA CONTACT PERSON +62 895 330 99999 3 [AH.OK#NEWS]

Leader Give & Leader Take, Renungan bagi Para Pemimpin

9 minutes reading
Saturday, 12 Sep 2026 00:48 251 ahoknewscom

Ditulis & Disariulang Oleh ; Alizar Tanjung BSc Mi St. Rajo Ameh

AhOkNews.Com | IndriMediaNewsGroup ~ Kepemimpinan tidak semata-mata dapat diukur dari jabatan, kewenangan, fasilitas, atau seberapa besar pengaruh seseorang terhadap orang lain.

Lebih jauh dari itu, kepemimpinan tercermin dari bagaimana seseorang menggunakan kekuasaan yang dipercayakan kepadanya: apakah untuk memberi manfaat kepada lembaga dan orang yang dipimpin, atau justru menjadikan jabatan sebagai sarana memenuhi kepentingan pribadi.

Gagasan mengenai dua kecenderungan dalam kepemimpinan tersebut dibahas psikolog dan penulis Adam Grant dalam bukunya Give and Take.

Melalui konsep giver dan taker, Grant membahas bagaimana kecenderungan seseorang dalam memberi atau mengambil dapat memengaruhi hubungan, pekerjaan, dan keberhasilan dalam kehidupan profesional.

Dalam konteks kepemimpinan, gagasan tersebut dapat menjadi bahan perenungan bagi siapa pun yang memegang tanggung jawab, baik di lembaga pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, dunia pendidikan, perusahaan, maupun komunitas.

Seorang pemimpin dengan karakter give memandang jabatan sebagai amanah yang membawa tanggung jawab.

Jabatan bukan sekadar posisi yang memberikan kewenangan untuk memerintah, melainkan kepercayaan yang harus dijawab melalui kerja, pengabdian, waktu, tenaga, dan perhatian terhadap kepentingan orang yang dipimpinnya.

Pemimpin dengan orientasi tersebut cenderung menempatkan kebutuhan organisasi dan orang-orang di dalamnya sebagai bagian penting dari tanggung jawabnya.

Ia tidak hanya bertanya mengenai apa yang dapat diperoleh dari jabatan, tetapi juga mempertanyakan apa yang dapat diberikan kepada lembaga dan masyarakat.

Di sinilah makna kepemimpinan diuji dalam kehidupan sehari-hari.

Jabatan yang tinggi tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin yang baik.

Sebaliknya, kualitas kepemimpinan dapat terlihat dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat setiap hari: bagaimana memperlakukan bawahan, bagaimana menggunakan kewenangan, bagaimana menyelesaikan persoalan, bagaimana mendengar kritik, hingga bagaimana mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.

Pemimpin yang berorientasi memberi akan berusaha menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan orang-orang di bawah kepemimpinannya berkembang.

Kenyamanan, perlindungan, kesempatan berkembang, penghargaan terhadap kerja, serta kesejahteraan menjadi bagian dari perhatian kepemimpinannya.

Namun, konsep give bukan berarti pemimpin harus selalu menyetujui semua keinginan orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan tetap membutuhkan ketegasan, disiplin, evaluasi, bahkan keputusan yang tidak selalu menyenangkan.

Perbedaannya terletak pada tujuan.

Ketegasan seorang pemimpin give diarahkan untuk memperbaiki organisasi dan melindungi kepentingan bersama.

Sementara keputusan yang lahir dari kepentingan pribadi berisiko menggeser fungsi jabatan dari pelayanan menjadi alat untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri.

Di sisi lain, konsep take menggambarkan kecenderungan ketika seseorang lebih berorientasi pada apa yang dapat diperoleh dari hubungan atau posisi yang dimilikinya.

Dalam konteks kepemimpinan, kecenderungan tersebut dapat terlihat ketika jabatan dipandang terutama sebagai sumber kekuasaan, fasilitas, pengaruh, atau keuntungan pribadi.

Pemimpin dengan orientasi take berpotensi menggunakan kewenangan yang dimiliki untuk memenuhi kepentingannya sendiri. Dalam kondisi tertentu, perhatian terhadap lembaga dan orang yang dipimpin dapat berada di bawah kepentingan pribadi.

See also  Aipda Jonni Rahmad Berpulang, Tinggalkan Jejak Kemanusiaan di Aceh

Jika kecenderungan tersebut berlangsung terus-menerus, kepercayaan terhadap pemimpin dapat menjadi persoalan. Organisasi membutuhkan kepercayaan agar setiap orang dapat bekerja secara efektif.

Ketika keputusan pemimpin dianggap lebih banyak menguntungkan dirinya sendiri, hubungan antara pimpinan dan anggota organisasi dapat mengalami keretakan.

Karena itu, kepemimpinan bukan hanya persoalan kemampuan memberikan instruksi. Kepemimpinan juga menyangkut keteladanan.

Orang yang dipimpin akan memperhatikan bagaimana pemimpinnya bekerja.

Mereka melihat apakah pemimpin hadir ketika organisasi menghadapi masalah, apakah keputusan dibuat secara adil, apakah kritik diterima, serta apakah pemimpin bersedia mengambil tanggung jawab ketika terjadi kegagalan.

Di lingkungan kerja, karakter seorang pemimpin bahkan dapat terlihat dari cara ia memperlakukan orang yang tidak memiliki jabatan atau pengaruh.

Sikap terhadap pegawai, staf, masyarakat, mitra kerja, maupun kelompok yang berbeda pendapat sering kali menjadi cermin nilai kepemimpinan yang sesungguhnya.

Kepemimpinan yang sehat juga membutuhkan mekanisme pertanggungjawaban. Seorang pemimpin tidak boleh hanya mengandalkan kepercayaan personal.

Sistem pengawasan, transparansi, evaluasi, dan pembagian kewenangan tetap diperlukan untuk memastikan kekuasaan digunakan sesuai tujuan organisasi.

Dalam konteks pemerintahan, prinsip tersebut menjadi semakin penting karena jabatan publik pada dasarnya berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Penggunaan kewenangan harus berada dalam koridor hukum, etika, dan kepentingan publik.

Begitu pula dalam perusahaan atau organisasi. Pemimpin memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan lembaga dan orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Keputusan yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek tanpa mempertimbangkan keberlanjutan organisasi dapat menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Gagasan give and take juga mengingatkan bahwa manusia tidak selalu dapat ditempatkan secara kaku hanya dalam satu kategori.

Dalam kehidupan nyata, seseorang dapat menunjukkan perilaku memberi dalam satu situasi dan mengambil dalam situasi lain. Karena itu, konsep tersebut lebih tepat digunakan sebagai alat refleksi daripada sebagai label permanen terhadap seseorang.

Pertanyaan terpenting bukanlah siapa yang termasuk giver atau taker, melainkan kecenderungan apa yang lebih dominan ketika seseorang diberikan kekuasaan.

Ketika memperoleh jabatan, apakah yang pertama kali dipikirkan adalah fasilitas yang didapatkan atau tanggung jawab yang harus ditunaikan?

Ketika memiliki kewenangan, apakah kekuasaan digunakan untuk memperkuat organisasi atau untuk memperbesar kepentingan pribadi?

Ketika menerima kritik, apakah kritik dipandang sebagai ancaman atau sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sederhana, tetapi jawabannya dapat menunjukkan arah kepemimpinan seseorang.

Pemimpin yang mampu melakukan evaluasi diri memiliki peluang lebih besar untuk memahami dampak keputusannya terhadap orang lain. Refleksi semacam ini penting karena kekuasaan dapat menciptakan jarak antara pemimpin dan orang yang dipimpin.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin penting pula kemampuan untuk mendengarkan.

Mendengarkan bukan berarti kehilangan kewibawaan. Justru melalui kemampuan mendengar, pemimpin dapat memahami persoalan yang tidak selalu terlihat dari ruang rapat atau laporan administratif.

Karyawan mungkin mengetahui masalah operasional yang tidak diketahui pimpinan. Nelayan memahami perubahan kondisi laut yang tidak selalu tertangkap dalam laporan.

See also  Cadangan Emas NTB Berpotensi Lampaui Freeport

Guru memahami persoalan peserta didik dari interaksi sehari-hari. Masyarakat mengetahui persoalan lingkungan yang mereka hadapi secara langsung.

Pemimpin yang mau mendengar akan memiliki lebih banyak informasi untuk mengambil keputusan.

Di sinilah kepemimpinan give memiliki dimensi yang lebih luas. Memberi tidak selalu berbentuk materi.

Memberi dapat berupa waktu, perhatian, kesempatan, perlindungan, kepercayaan, akses terhadap informasi, ruang untuk berkembang, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

Sementara itu, kecenderungan take tidak selalu berarti mengambil sesuatu secara langsung.

Ia dapat muncul dalam bentuk penggunaan jabatan untuk membangun citra pribadi, mengutamakan kepentingan kelompok sendiri, mengambil penghargaan atas kerja orang lain, atau menghindari tanggung jawab ketika terjadi persoalan.

Karena itu, evaluasi kepemimpinan perlu dilakukan bukan hanya berdasarkan hasil akhir, tetapi juga berdasarkan proses yang ditempuh untuk mencapainya.

Organisasi yang sehat membutuhkan pemimpin yang mampu menghasilkan kinerja sekaligus membangun kepercayaan. Prestasi tanpa integritas dapat menimbulkan persoalan, sementara niat baik tanpa kemampuan menjalankan tugas juga tidak cukup.

Pemimpin membutuhkan keseimbangan antara ketegasan, empati, kompetensi, integritas, dan akuntabilitas.

Pada akhirnya, jabatan hanyalah posisi. Nilai sebuah jabatan ditentukan oleh bagaimana posisi tersebut digunakan.

Seseorang dapat memiliki kewenangan besar tetapi memberikan manfaat yang kecil bagi orang lain. Sebaliknya, seseorang dengan kewenangan terbatas dapat memberikan pengaruh besar melalui keteladanan, pelayanan, dan kepedulian.

Karena itu, setiap pemimpin perlu melakukan pemeriksaan terhadap dirinya sendiri. Ketika mengambil keputusan, kepada siapa manfaat terbesar diarahkan?

Ketika memperoleh penghargaan, siapa yang ikut diakui? Ketika organisasi menghadapi masalah, apakah pemimpin berada di depan untuk bertanggung jawab atau justru mencari pihak lain untuk disalahkan?

Pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkan bahwa kepemimpinan selalu membawa konsekuensi.

Masyarakat, pegawai, anggota organisasi, dan orang-orang yang dipimpin pada akhirnya akan menilai kepemimpinan melalui pengalaman nyata.

Bukan hanya dari pidato, slogan, atau janji, tetapi dari tindakan yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep Leader Give dan Leader Take karenanya dapat ditempatkan sebagai cermin.

Cermin tersebut tidak ditujukan untuk menilai orang lain terlebih dahulu. Justru setiap orang yang memegang tanggung jawab perlu bercermin kepada dirinya sendiri.

Apakah jabatan yang kita miliki telah menjadi ruang untuk mengabdi? Apakah kewenangan yang dipercayakan telah digunakan untuk memperkuat lembaga? Apakah orang-orang yang kita pimpin merasa dihargai, dilindungi, dan memiliki ruang untuk berkembang? Atau sebaliknya, apakah jabatan perlahan berubah menjadi kesempatan untuk mengambil lebih banyak bagi diri sendiri? Pertanyaan terakhir mungkin terasa sederhana, tetapi justru di sanalah inti refleksi kepemimpinan berada.

Menjadi pemimpin bukan sekadar berada di depan. Menjadi pemimpin berarti bersedia memikul tanggung jawab ketika berada di depan. Kekuasaan bukan hanya hak untuk menentukan, melainkan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keputusan.

Karena itu, setiap jabatan seharusnya melahirkan pertanyaan yang sama: apa yang sudah saya berikan kepada lembaga dan orang-orang yang mempercayai saya?

See also  Tol Trans Sumatra Ditargetkan Tersambung Lampung-Aceh pada 2028

Jawaban atas pertanyaan tersebut pada akhirnya tidak hanya terlihat dari kata-kata, tetapi dari jejak yang ditinggalkan.

Sebab ketika jabatan berakhir, kekuasaan akan berpindah, fasilitas akan ditinggalkan, dan posisi akan berganti. Yang tersisa adalah dampak dari kepemimpinan itu sendiri.

Maka, sebelum menilai apakah kita seorang Leader Give atau Leader Take, ada baiknya kita bertanya lebih jujur kepada diri sendiri: ketika diberi amanah, apakah kita datang untuk mengambil, atau untuk memberi? | AhOkNews.Com | */Redaksi | Nekson M Simanjuntak* | *** |

# DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama ; Alizar Tanjung.
Suku / Marga ; Tanjung.
Gelar Akademik ; Bachelor of Science Management Industry [B.Sc., M.I].
Gelar / Julukan ; Sutan Rajo Ameh.

### PROFESI & AKTIVITAS

* Ketua Umum Dewan Pembina KMP (Keluarga Minang Perantauan)
* Ketua Umum Ultras Garuda Minang Indonesia
* Direktur Eksekutif Pinang Merah Indonesia
* CEO AUKBABEL (Aktivis Untuk Kemajuan Bangka Belitung)
* Direktur Utama PT Jalaloka Seribu Cakrawala
* Managing Director JSC Group Media, ArtaSari Media Group, dan Indri Media News Group
* Pendiri dan Ketua Umum Komunitas AhOk2029 Indonesia

### ORGANISASI & KEGIATAN SOSIAL

* Anggota Pemuda Pancasila DKI Jakarta
* Anggota AMPI DKI Jakarta
* Pendiri dan Inisiator Musda I DPD IKM Kabupaten Belitung Timur
* Pendiri dan Inisiator Gebu Minang Kabupaten Belitung Timur
* Pendiri dan Inisiator PKDP Kabupaten Belitung Timur
* Pendiri dan Inisiator Organisasi Massa Gerakan Rakyat di Bangka Belitung
* Ketua DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Belitung Timur

### RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL & INFORMAL

* SD Pertamina VIII Plaju
* SMP Negeri XXIII Jakarta
* SMA Negeri LXXII Jakarta
* STTI APRIN Palembang
* Kursus Komputer Jakarta
* Kursus Leadership SDM Karawang
* Kursus Dinas Staf Palembang

### PENGALAMAN ORGANISASI

* Alumni Diksarmil Menwa Yonif 145/Balau Serong Sumsel 1988
* Mantan Danki STTI APRIN Palembang 1989
* Mantan Dandenma Skomenwa Mahawijaya Sumatera Selatan 1992
* Mantan Sekretaris PAC PDIP Kecamatan Manggar, Belitung Timur
* Calon Legislatif PDIP Tahun 2009

### RIWAYAT PEKERJAAN

* Pernah bertugas dalam liputan Etv Sea Games 1997 di Jakarta
* Staff Gudang Ekspor-Impor, PT Hung-A Indonesia (PMA Korea)
* Asisten Direktur Umum dan Personalia, PT Tokai Kagu Indonesia (PMA Jepang)
* Foreman Mitra, PT Semen Cibinong, Cileungsi
* Manager Umum dan Personalia, PT Billitin Makmur Lestari (Lomasasta Group)
* Wartawan Profesional di Babelpos / Jawapos Group Wilayah Liputan Belitung Timur
* Konsultan dan Juru Bicara Himpunan Cafe Seluruh Belitung Timur
* Administration Officer, Hotel Puri Indah Manggar, Belitung Timur

### BIDANG KEGIATAN

Aktivis Sosial, Organisasi Kemasyarakatan, Wartawan Profesional & Pemilik Media, Kewirausahaan, Kepemudaan, Seni & Budaya, serta pengembangan masyarakat dan daerah, Perantau di berbagai daerah dari Aceh hingga Nabire Papua.

Alizar Tanjung, B.Sc., M.I. St. Rajo Ameh
Penulis | Pemerhati | Inisiator | Motivator | Aktivis | Penggerak Organisasi | Profesional Media

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x