x
我们接受以合作、捐赠及其他形式提供的援助,以支持我们在印度尼西亚各地开展的各项活动。如需了解更多信息,请致电 +62 895 33 0 99999 3 联系我们。谢谢。[AhOk#NEWS] WE ACCEPT ASSISTANCE IN THE FORM OF COOPERATION, DONATIONS AND OTHER THINGS NEEDED FOR THE OPERATION OF ALL ACTIVITIES THROUGHOUT INDONESIA. FOR FURTHER INFORMATION PLEASE CONTACT +62 895 33 0 99999 3 THANK YOU [AhOk#NEWS] Wǒmen jiēshòu yǐ hézuò, juānzèng jí qítā xíngshì tígōng de yuánzhù, yǐ zhīchí wǒmen zài yìndùníxīyà gèdì kāizhǎn de gè xiàng huódòng. Rú xū liǎojiě gèng duō xìnxī, qǐng zhìdiàn +62 895 33 0 99999 3 liánxì wǒmen. Xièxiè. [AhOk#NEWS] KAMI MENERIMA BANTUAN KERJASAMA & DONASI SERTA HAL LAINNYA YANG DIPERLUKAN UNTUK OPERASIONAL SELURUH KEGIATAN DI SELURUH INDONESIA, KETERANGAN LEBIH LANJUT HUBUNGI +62 895 33 0 99999 3 TERIMAKASIH [AhOk#NEWS] BERGABUNGLAH BERSAMA KAMI "KOMUNITAS AhOk2029 [ KoAhOk2029 ] INDONESIA MELALUI SCAN BARCODE YANG ADA DI PROFIL FOTO AHOK DIDALAM IKLAN MEDIA ONLINE AhOkNews.Com UNTUK MEWAKILI DAERAH ANDA JADILAH BTP BERSIH TRANSPARAN & PROFESIONAL" MENUJU INDONESIA EMAS 2045 [AhOk#NEWS] KETUA UMUM KOMUNITAS AhOk2029 [ KoAhOk2029 ] INDONESIA, RIZAL TAN MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS TERBITNYA MEDIA ONLINE AhOkNews.Com PADA RABU 8 JULI 2026 SEMOGA BERJAYA UNTUK NEGERI [AhOk#NEWS] MEDIA ONLINE AhOkNews.Com DIKELOLA OLEH MANAGEMENT REDAKSI IndriMediaNewsGroup BER-MOTTO-KAN BTP BERANI TERDEPAN PRESISI HOTLINE +62 895 33 0 99999 3 [AhOk#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL & RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH NYAMAN & PENUH PESONA HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [AhOk#NEWS] KOMUNITAS AhOk2029 [ KoAhOk2029 ] INDONESIA CONTACT PERSON +62 895 330 99999 3 [AH.OK#NEWS]

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan

6 minutes reading
Sunday, 12 Jul 2026 12:23 109 ahoknewscom

AhOkNews.Com | IndriMediaNews.Com ~ Pemerintah resmi menetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sebuah momentum nasional yang diharapkan menjadi pengingat penting akan sejarah lahirnya bangsa sekaligus memperkuat penghormatan terhadap keberagaman budaya, keyakinan, dan identitas masyarakat Indonesia.

Penetapan tersebut diumumkan Kementerian Kebudayaan sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai kebangsaan yang berakar pada konstitusi dan semangat persatuan.

Hari peringatan ini bukan sekadar penambahan tanggal dalam kalender nasional, melainkan memiliki makna historis yang erat kaitannya dengan perjalanan pembentukan negara Indonesia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan, pemilihan tanggal 13 Juli bukan dilakukan tanpa dasar.

Tanggal tersebut merujuk pada rapat besar Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 13 Juli 1945, ketika para pendiri bangsa membahas rancangan konstitusi yang kemudian menjadi fondasi kehidupan bernegara.

“Penetapan tanggal 13 Juli juga adalah satu penetapan yang historis, karena ini dikaitkan dengan rapat besar tanggal 13 Juli tahun 1945 ketika pembicaraan tentang konstitusi kita,” ujar Fadli Zon.

Menurutnya, keputusan tersebut merupakan implementasi nyata amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memberikan ruang bagi negara untuk memajukan kebudayaan nasional sekaligus menjamin masyarakat dalam memelihara nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang.

Konstitusi, lanjut Fadli, telah memberikan arah yang jelas bahwa negara memiliki tanggung jawab melindungi seluruh ekspresi budaya masyarakat selama tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal tersebut juga selaras dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menempatkan keberagaman budaya sebagai kekuatan bangsa dalam menghadapi perkembangan dunia.

Dalam undang-undang tersebut ditegaskan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan nilai budayanya.

Bagi pemerintah, penghayat kepercayaan merupakan bagian dari kekayaan budaya nasional yang telah hidup jauh sebelum Indonesia merdeka.

See also  PWI Pusat Laporkan Hotman Paris, Soroti Martabat Profesi Wartawan

Karena itu, keberadaannya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah panjang perjalanan bangsa.

Mengingat Sejarah, Menguatkan Persatuan

Penetapan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dinilai memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pengakuan administratif.

Momentum ini diharapkan menjadi sarana edukasi publik mengenai sejarah bangsa yang dibangun oleh masyarakat dengan latar belakang agama, budaya, bahasa, suku, dan kepercayaan yang beragam.

Fadli menegaskan bahwa Indonesia sejak awal tidak dibangun atas dasar keseragaman, melainkan di atas fondasi penghormatan terhadap perbedaan.

“Penetapan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa ini menjadi pengingat kita semua bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman, toleransi, penghormatan terhadap martabat setiap warga negara,” katanya.

Pernyataan tersebut memiliki relevansi besar di tengah dinamika kehidupan masyarakat modern yang semakin kompleks.

Di era digital, ketika arus informasi bergerak begitu cepat, ruang publik sering kali dipenuhi perdebatan mengenai identitas, budaya, hingga keyakinan.

Karena itu, penguatan literasi kebangsaan dipandang menjadi kebutuhan penting agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh perbedaan.

Hari peringatan ini diharapkan menjadi ruang refleksi bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan modal sosial yang selama puluhan tahun menjaga Indonesia tetap utuh.

Perjuangan Panjang Sejak Dua Dekade Lalu

Di balik penetapan tersebut, terdapat perjalanan yang cukup panjang.

Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, mengungkapkan bahwa gagasan penetapan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa bukanlah usulan yang muncul dalam waktu singkat.

Usulan tersebut telah disampaikan oleh Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) sejak 2005.

Selama hampir dua dekade, berbagai diskusi dilakukan dengan melibatkan organisasi-organisasi penghayat kepercayaan dari berbagai daerah di Indonesia.

“Pembahasan ini diikuti oleh para penghayat kepercayaan dan berbagai organisasi kepercayaan Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) yang difasilitasi oleh Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat,” ujar Restu.

See also  Jhadi Wijaya, S.H., M.H Ditugaskan ke Kejaksaan Agung RI

Proses panjang tersebut menunjukkan bahwa penetapan hari nasional tidak dilakukan secara terburu-buru, melainkan melalui kajian historis, akademik, hukum, hingga pertimbangan sosial budaya.

Pemerintah juga menegaskan bahwa langkah ini bukan untuk menciptakan pemisahan ataupun perlakuan khusus terhadap kelompok tertentu.

Sebaliknya, penetapan ini bertujuan memperkuat semangat inklusivitas dan penghormatan terhadap seluruh warga negara sebagaimana dijamin dalam konstitusi.

Sejalan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi

Pengakuan terhadap penghayat kepercayaan sebenarnya mengalami perkembangan penting dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu tonggak penting adalah putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016, yang membuka ruang bagi penghayat kepercayaan untuk mencantumkan identitas kepercayaannya dalam dokumen administrasi kependudukan.

Putusan tersebut menjadi bagian dari upaya negara memastikan bahwa seluruh warga negara memperoleh pelayanan publik secara setara tanpa diskriminasi.

Dengan demikian, penetapan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dipandang sebagai kelanjutan dari proses penguatan perlindungan hak-hak konstitusional masyarakat penghayat kepercayaan.

Di sisi lain, pemerintah juga menegaskan bahwa kebijakan ini tidak mengubah kedudukan agama-agama yang diakui negara maupun sistem kehidupan beragama yang selama ini berjalan.

Hari tersebut lebih diarahkan sebagai momentum penghormatan terhadap sejarah, budaya, dan keberagaman bangsa Indonesia.

Belum Menjadi Hari Libur Nasional

Munculnya penetapan hari nasional ini juga memunculkan pertanyaan publik mengenai kemungkinan dijadikan hari libur nasional.

Menanggapi hal tersebut, Fadli Zon menyatakan bahwa hingga kini pemerintah belum mengambil keputusan mengenai status libur.

“Meskipun kalau ditawarkan pasti banyak yang mau, tapi liburnya mungkin nanti kalau ada diperjuangkan itu bisa saja fakultatif,” ujarnya sambil tersenyum.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa fokus utama pemerintah saat ini bukan pada penambahan hari libur, melainkan membangun kesadaran masyarakat mengenai makna sejarah di balik tanggal tersebut.

Sebagaimana sejumlah hari nasional lainnya, Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa lebih diarahkan menjadi momentum edukasi, diskusi kebudayaan, seminar, pameran, hingga kegiatan pelestarian tradisi di berbagai daerah.

See also  Profil Febrie Adriansyah, Jaksa Karier Menangani Perkara Korupsi Besar

Daerah Memiliki Peran Strategis

Bagi pemerintah daerah, momentum ini dapat menjadi kesempatan memperkuat pelestarian budaya lokal.

Indonesia memiliki ribuan komunitas adat beserta tradisi yang masih hidup hingga kini.

Banyak di antaranya memiliki sistem nilai, ritual, dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.

Pelestarian terhadap warisan tersebut menjadi penting karena tidak hanya berkaitan dengan sejarah masa lalu, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda.

Di berbagai daerah, nilai-nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, musyawarah, hingga solidaritas sosial justru lahir dari tradisi yang berkembang dalam komunitas adat dan penghayat kepercayaan.

Karena itu, penetapan hari nasional ini diharapkan mampu mendorong pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan masyarakat untuk bersama-sama memperkenalkan kembali kekayaan budaya Nusantara kepada generasi muda.

Merawat Indonesia Melalui Kebudayaan

Pada akhirnya, Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa bukan sekadar simbol seremonial.

Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa Indonesia tumbuh sebagai bangsa yang besar karena mampu merangkul keberagaman.

Di tengah tantangan globalisasi, perubahan sosial, dan derasnya arus digitalisasi, semangat saling menghormati menjadi modal utama menjaga persatuan nasional.

Perbedaan keyakinan, budaya, bahasa, maupun adat istiadat tidak semestinya menjadi alasan lahirnya sekat-sekat sosial.

Sebaliknya, seluruh kekayaan tersebut merupakan mozaik kebangsaan yang menjadikan Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keragaman budaya terbesar di dunia.

Melalui penetapan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa setiap 13 Juli, pemerintah berharap masyarakat semakin memahami bahwa penghormatan terhadap keberagaman bukan hanya bagian dari budaya bangsa, tetapi juga amanat konstitusi yang harus terus dijaga bersama.

Semangat itu menjadi investasi sosial yang penting untuk membangun Indonesia yang inklusif, damai, berkeadilan, serta mampu menghadapi masa depan dengan tetap berpijak pada akar sejarah dan kebudayaannya sendiri. | AhOkNews.Com | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x