


Foto ; repro/dok/fb* AhOkNews.Com | IndriMediaNewsGroup ~ Beijing terus memperlihatkan wajah ganda sebagai pusat pemerintahan Republik Rakyat Tiongkok sekaligus kota metropolitan yang menjadi simpul penting ekonomi, teknologi, pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata dunia.

Perpaduan peninggalan kekaisaran, perkembangan industri berbasis inovasi, serta kehidupan masyarakat yang dinamis menjadikan ibu kota Tiongkok ini sebagai salah satu kota paling berpengaruh di Asia.
Perkembangan Beijing tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarahnya selama ribuan tahun.
Kota yang dahulu menjadi pusat kekuasaan sejumlah dinasti besar tersebut kini berkembang menjadi kawasan perkotaan modern dengan populasi lebih dari 21 juta jiwa.

Perubahan itu berlangsung melalui pembangunan infrastruktur, penguatan sektor jasa, pengembangan teknologi tinggi, serta perlindungan terhadap warisan sejarah.
Data Pemerintah Kota Beijing menunjukkan produk domestik bruto (PDB) pada 2024 mencapai 4,984 triliun yuan atau 49.843,1 miliar yuan, bukan 49,84 triliun yuan.
Angka ini mengacu pada laporan statistik resmi Pemerintah Kota Beijing yang diterbitkan pada Maret 2025. Lalu meningkat 5,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sektor jasa menyumbang sekitar 85,3 persen dari keseluruhan struktur ekonomi, memperlihatkan kuatnya pergeseran Beijing menuju kegiatan ekonomi bernilai tambah tinggi.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan kekaisaran mampu mempertahankan identitas sejarah sambil beradaptasi terhadap tuntutan ekonomi global.
Sejarah Beijing memiliki akar panjang yang berkaitan dengan perkembangan peradaban di kawasan utara Tiongkok. Catatan sejarah menyebut wilayah ini telah dihuni dan berkembang sejak lebih dari 3.000 tahun lalu.
Pada masa awal, kawasan tersebut berkaitan dengan negara kuno Ji dan Yan, sebelum mengalami perubahan politik dan pemerintahan seiring pergantian kekuasaan.
Perjalanan menuju status ibu kota berlangsung melalui beberapa periode penting. Dinasti Liao yang didirikan bangsa Khitan dan Dinasti Jin yang dipimpin bangsa Jurchen menjadikan kawasan Beijing sebagai salah satu pusat kekuasaan mereka.

Perubahan paling menentukan terjadi ketika Kublai Khan menetapkan Dadu sebagai ibu kota Dinasti Yuan pada abad ke-13.
Kota tersebut kemudian mengalami pembenahan besar pada masa Dinasti Ming.
Pembangunan kompleks istana kekaisaran, tata ruang perkotaan, gerbang, jalan utama, serta tempat peribadatan membentuk karakter Beijing sebagai pusat pemerintahan yang memiliki perencanaan ruang sangat terstruktur.
Pada masa Dinasti Qing, sejumlah bangunan dan kawasan kerajaan mengalami pengembangan lebih lanjut. Kota ini kemudian memasuki periode perubahan politik yang kompleks setelah berakhirnya pemerintahan kekaisaran pada 1912.

Beijing sempat kehilangan status sebagai ibu kota nasional pada 1928, sebelum kembali menjadi pusat pemerintahan Republik Rakyat Tiongkok sejak 1949.
Rangkaian sejarah tersebut memperlihatkan bahwa Beijing tidak tumbuh dalam satu periode pemerintahan saja.
Identitas perkotaannya merupakan hasil pertemuan berbagai kekuatan politik, tradisi budaya, arsitektur, serta perkembangan masyarakat selama berabad-abad.
Bukti penting mengenai perjalanan tersebut terlihat dari kekayaan situs bersejarah yang mendapatkan pengakuan internasional.
Pemerintah Beijing mencatat delapan properti warisan dunia UNESCO yang berada di wilayahnya, yaitu Tembok Besar, kompleks Istana Kekaisaran atau Museum Istana, Situs Manusia Peking di Zhoukoudian, Istana Musim Panas, Kuil Langit, Makam Dinasti Ming, Kanal Besar, dan Poros Tengah Beijing.
Salah satu pengakuan terbaru diberikan pada 27 Juli 2024 ketika UNESCO menetapkan Poros Tengah Beijing atau Beijing Central Axis sebagai Situs Warisan Dunia.
Kawasan sepanjang sekitar 7,8 kilometer tersebut menghubungkan berbagai bangunan monumental, ruang publik, gerbang, taman, dan kompleks istana yang menggambarkan prinsip penataan ibu kota dalam tradisi kekaisaran Tiongkok.
Pengakuan tersebut memiliki arti penting karena pelestarian warisan tidak hanya berkaitan dengan keindahan bangunan, tetapi juga sejarah tata kota, sistem pemerintahan, dan perkembangan kebudayaan.
UNESCO menilai kawasan tersebut mempunyai nilai universal yang memperlihatkan kontribusi penting Tiongkok terhadap sejarah perencanaan perkotaan dunia.
Di sisi lain, wajah Beijing masa kini memperlihatkan perkembangan ekonomi yang sangat berbeda dibandingkan masa kekaisaran. Berdasarkan laporan statistik 2024, sektor tersier atau jasa menyumbang sekitar 85,3 persen terhadap PDB kota.
Aktivitas ekonomi meliputi jasa keuangan, teknologi informasi, pendidikan, penelitian, kesehatan, perdagangan, komunikasi, industri kreatif, dan pariwisata.
Kawasan Zhongguancun di Distrik Haidian menjadi salah satu pusat penting perkembangan teknologi dan inovasi.
Kawasan ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya perusahaan teknologi, lembaga penelitian, perguruan tinggi, inkubator bisnis, serta lembaga investasi yang mendorong pengembangan produk dan teknologi baru.
Pemerintah Beijing juga mengembangkan kawasan inovasi sains dan teknologi yang berorientasi pada teknologi informasi generasi berikutnya, biologi, kesehatan, layanan teknologi, serta ekonomi digital.
Arah pembangunan tersebut memperlihatkan upaya memperkuat daya saing melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan inovasi.
Perkembangan ekonomi digital menjadi salah satu indikator perubahan struktur perekonomian kota.
Pada 2024, nilai tambah ekonomi digital Beijing berdasarkan harga berlaku meningkat 7,7 persen, sedangkan industri inti ekonomi digital tumbuh 10,1 persen.
Sektor teknologi tinggi dan industri strategis juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah.
Kendati demikian, kemajuan teknologi tidak berarti seluruh aktivitas ekonomi tradisional ditinggalkan.
Kerajinan enamel, ukiran giok, porselen, tekstil, dan produk seni tradisional masih menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus aktivitas ekonomi kreatif.
Perpaduan industri modern dengan keterampilan tradisional membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah yang memiliki karakter khas.
Kekuatan ekonomi Beijing juga terlihat melalui sektor pariwisata. Pemerintah kota mencatat sekitar 372 juta kunjungan wisatawan sepanjang 2024 dengan total pengeluaran mencapai 672,24 miliar yuan.
Jumlah wisatawan mancanegara mencapai sekitar 3,94 juta kunjungan, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa warisan sejarah bukan hanya aset kebudayaan, melainkan juga sumber penggerak ekonomi.
Kehadiran wisatawan memberikan peluang bagi sektor perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, jasa pemandu, industri kreatif, dan berbagai usaha pendukung lainnya.
Tembok Besar menjadi salah satu destinasi yang paling dikenal secara internasional.
Sementara itu, Kota Terlarang yang kini menjadi Museum Istana menyimpan koleksi dan peninggalan kerajaan yang menggambarkan perjalanan panjang dinasti kekaisaran.
Istana Musim Panas memperlihatkan keindahan taman kerajaan, sedangkan Kuil Langit menjadi bukti hubungan antara ritual keagamaan dan legitimasi kekuasaan dalam tradisi kekaisaran.
Kawasan bersejarah tersebut terus menghadapi tantangan pengelolaan.
Peningkatan kunjungan wisatawan harus diseimbangkan dengan konservasi bangunan, perlindungan lingkungan, pengaturan kepadatan, serta kepentingan warga yang tinggal di sekitar kawasan bersejarah.
Dari sisi kependudukan, Beijing merupakan kota dengan masyarakat yang memiliki latar belakang etnis dan daerah asal beragam.
Data sensus penduduk 2020 mencatat jumlah penduduk tetap sebanyak 21.893.095 jiwa. Etnis Han mencapai 95,2 persen, sedangkan kelompok etnis minoritas sekitar 4,8 persen.
Kelompok minoritas terbesar terdiri atas Manchu, Hui, dan Mongol.
Berdasarkan data Komisi Urusan Etnis dan Agama Beijing, jumlah penduduk Manchu sekitar 470 ribu orang, Hui sekitar 274 ribu orang, dan Mongol sekitar 123 ribu orang berdasarkan sensus 2020.
Kehadiran berbagai kelompok etnis tersebut mempunyai hubungan erat dengan sejarah politik dan migrasi masyarakat Tiongkok.
Pengaruh bangsa Mongol terlihat dalam periode Dinasti Yuan, sedangkan komunitas Manchu mempunyai hubungan historis dengan pemerintahan Dinasti Qing.
Komunitas Hui, yang memiliki tradisi Islam Tionghoa, juga menjadi bagian dari keragaman kehidupan keagamaan dan kebudayaan Beijing.
Namun, istilah penduduk asli perlu digunakan secara hati-hati. Tidak seluruh penduduk Beijing merupakan keturunan keluarga yang telah menetap di kota tersebut sejak masa lampau.
Sensus 2020 menunjukkan bahwa sekitar 38,5 persen penduduk tetap merupakan warga yang berasal dari provinsi atau daerah lain di Tiongkok.
Dengan demikian, karakter Beijing modern juga dibentuk oleh mobilitas penduduk, pendidikan, pekerjaan, serta migrasi antardaerah.
Keberagaman tersebut menciptakan dinamika sosial yang kompleks.
Bahasa Mandarin dengan ciri pengucapan Beijing menjadi bahasa komunikasi utama, sementara dialek dan tradisi daerah asal tetap digunakan dalam lingkungan keluarga dan komunitas tertentu.
Salah satu ciri linguistik yang dikenal luas adalah penggunaan akhiran bunyi ‘r’ atau erhua dalam percakapan sehari-hari.
Kehidupan masyarakat Beijing juga memperlihatkan pertemuan antara budaya tradisional dan pola hidup metropolitan.
Salah satu lingkungan yang paling mencerminkan karakter lama kota tersebut adalah hutong, yakni jaringan gang permukiman tradisional yang umumnya berhubungan dengan rumah berhalaman dalam atau siheyuan.
Di kawasan ini, rumah-rumah tradisional, jalan sempit, toko kecil, serta ruang interaksi warga membentuk lingkungan sosial yang khas.
Sebagian penduduk masih mempertahankan kebiasaan menyapa tetangga, berbincang di sekitar rumah, bermain catur, dan melakukan kegiatan bersama.
Meski demikian, kehidupan hutong tidak sepenuhnya sama dengan gambaran romantis dalam promosi wisata.
Penelitian akademik mengenai permukiman tradisional Beijing menunjukkan adanya persoalan kualitas hunian, keterbatasan ruang, kebutuhan sanitasi, perubahan fungsi bangunan, dan perbedaan kepentingan antara konservasi dengan kebutuhan hidup warga.
Kajian mengenai pelestarian hutong karena itu menekankan pentingnya keseimbangan antara perlindungan warisan arsitektur dan kelayakan hidup masyarakat.
Bangunan bersejarah tidak akan memiliki keberlanjutan sosial apabila penduduk yang menjadi bagian dari sejarah kawasan tersebut kehilangan ruang untuk hidup secara layak.
Kebiasaan masyarakat Beijing juga dapat dilihat melalui aktivitas di taman kota.
Sejumlah warga, khususnya kelompok lanjut usia, memanfaatkan ruang terbuka untuk melakukan Tai Chi, berjalan kaki, menari, bernyanyi, dan berinteraksi dengan teman sebaya.
Kuil Langit merupakan salah satu tempat yang dikenal sebagai ruang aktivitas olahraga tradisional pada pagi hari.
Dalam pemberitaan Associated Press pada Juli 2026, sejumlah kelompok warga lanjut usia terlihat berlatih Tai Chi secara rutin di kawasan tersebut.
Ye Guirong, seorang praktisi berusia 64 tahun yang memimpin kelompok latihan, menggambarkan kegiatan itu sebagai sarana menjaga kebugaran sekaligus membangun hubungan sosial.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa taman bukan hanya fasilitas rekreasi, tetapi juga ruang publik yang mendukung kesehatan dan interaksi lintas generasi.
Kegiatan serupa berkembang di berbagai ruang terbuka perkotaan, meskipun bentuk dan intensitasnya berbeda sesuai lingkungan masyarakat.
Dalam urusan kuliner, Beijing memiliki identitas gastronomi yang kuat. Bebek Peking atau Peking Duck merupakan salah satu hidangan yang paling dikenal secara global.
Teknik pemanggangan tradisionalnya telah menjadi bagian dari warisan budaya takbenda nasional Tiongkok.
Restoran Bianyifang yang memiliki sejarah sekitar enam abad dan Quanjude yang berdiri pada 1864 merupakan dua nama penting dalam perjalanan kuliner bebek panggang Beijing.
Selain itu, masyarakat juga mengenal zhajiangmian, mi dengan saus kacang kedelai fermentasi, serta berbagai hidangan berbasis daging, sayuran, dan olahan tepung.
Kebiasaan makan bersama masih menjadi bagian dari kehidupan sosial, terutama dalam pertemuan keluarga, perayaan, dan jamuan tertentu.
Hidangan biasanya ditempatkan di tengah meja agar dapat dinikmati bersama. Namun, pola konsumsi masyarakat perkotaan saat ini juga semakin beragam mengikuti perkembangan restoran modern, layanan pesan antar, dan gaya hidup generasi muda.
Perubahan budaya terlihat pula di sekitar kawasan Drum Tower dan Bell Tower.
Wilayah yang dahulu dikenal sebagai pusat aktivitas tradisional kini berkembang dengan kehadiran kedai kopi, toko kreatif, galeri seni, ruang pertunjukan, dan usaha yang menyasar wisatawan maupun generasi muda.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan bersama inovasi ekonomi.
Namun, pengembangan kawasan wisata tetap perlu memperhatikan harga hunian, keberlanjutan usaha warga lokal, dan kemungkinan perubahan karakter lingkungan akibat komersialisasi berlebihan.
Beijing pada akhirnya memberikan gambaran mengenai tantangan sebuah kota besar dalam mengelola sejarah, masyarakat, dan kemajuan ekonomi secara bersamaan.
Keberhasilan pembangunan tidak cukup dinilai dari besarnya investasi, kemegahan gedung, atau tingginya jumlah wisatawan.
Kualitas lingkungan, kesempatan ekonomi, akses pelayanan publik, dan keberlanjutan komunitas juga menjadi ukuran penting.
Bagi Indonesia, perjalanan Beijing dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai pengembangan kota berbasis warisan budaya.
Kota-kota bersejarah di Tanah Air memiliki potensi serupa untuk menghubungkan pelestarian tradisi dengan penguatan ekonomi kreatif, pariwisata, pendidikan, dan partisipasi masyarakat.
Pada titik inilah Beijing bukan hanya menarik sebagai destinasi perjalanan internasional.
Kota tersebut juga menjadi contoh bagaimana identitas masa lalu dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan masa depan, sepanjang kemajuan tetap mempertimbangkan kebutuhan manusia dan keberlanjutan lingkungan. | AhOkNews.Com | */Redaksi | *** |

No Comments